Judul : Anak-anak Angin
Penulis : Bayu Adi Persada
Penerbit : Plot Point, Mei 2013
Halaman : 292 halaman
Genre : Personal Literature
ISBN : 9786029481266
Sinopsis Anak-anak Angin :
Angin akan berembus mengikuti arah nasib. Setidaknya itu yang dikira Bayu Adi Persada pada awalnya. Bayu adalah salah seorang dari 51 anggota angkatan pertama gerakan Pengajar Muda Indonesia.
Nasib membawa Bayu dari rasa kalah karena ditolak oleh perusahaan multinasional ke Desa Bibinoi di Halmahera Selatan. Di sini dia bertemu dengan anak-anak angin: anak-anak SD yang sedang belajar bahwa kebanggaan harus diperjuangkan.
Namun bukan cuma mereka yang belajar. Bayu juga belajar banyak dari mereka. Dia belajar bahwa niat baik dan kekerasan hati saja tak cukup untuk mengubah keadaan.
Belajar bahwa solusi hidup bukanlah kata-kata motivasi, tapi tindakan nyata, meski sesederhana menghentikan tangis salah seorang anak terpintar di kelas 3 yang frustasi karena tak bisa menulis huruf 'a' kecil.
Bayu akhirnya menghadapi masalah-masalah baru dalam hidupnya. Bukan cuma anak yang tak bisa membaca dan bandel, tapi juga keadaan masyarakat serta sistem pendidikan yang memungkinkan celah penyelewengan.
Ini adalah sebuah wajah pendidikan kita. Ini adalah sebuah cerita dari anak-anak yang tak muncul dalam berita. Ini adalah catatan seorang anak muda yang belajar bahwa hidup tak boleh sekadar mengikuti arah angin nasib.
Perkenalan tidak sengaja dengan seorang Pengajar Muda bernama Mesa yang ditempatkan di Halmahera Selatan di toko buku terbesar di Maluku Utara, Gramedia Ternate, membuat saya tahu jika buku ini sudah masuk ke toko itu. Suatu prestasi yang hebat mengingat begitu cepatnya buku ini masuk sementara waktu terbitnya masih terbilang baru. Ingin tahu bagaimana cerita versi panjang perkenalan saya?
Jadi ceritanya saya dan kelima orang teman saya berencana untuk baronda (jalan-jalan) ke Pulau Morotai. Saya begitu bersemangat untuk pergi mengingat izin untuk tidak masuk kantor sudah saya kantongi. Biasanya sulit untuk meminta izin tersebut. Izin sudah didapat. Rencana sudah bulat. Tapi rencana itu tiba-tiba batal karena satu dan lain hal. Semua kecewa berat. Tapi tidak bisa berbuat apa pun. Seperti biasa kalau sudah seperti itu hanya ada satu yang bisa meredakan kekecewaan saya. Buku. Sabtu sore (22/06) saya melangkah mantap memasuki Gramedia Ternate. Teman yang lain mengekor dibelakang.
Didalam toko saya langsung menuju rak yang memajang buku Titik Nol Agustinus Wibowo dan melakukan ritual kecil saya seperti biasa. Mengambil buku, membaca sinopsis dan melihat harga, menimang-nimang buku selama beberapa saat, mengelus-elus sampulnya, dan... meletakkannya kembali ke rak. Tak lupa mendesah bertanya pada diri sendiri mengapa harga buku Titik Nol itu begitu mahal. Harga yang tercantum di plastik pembungkusnya Rp.117.500. Agak terasa berat dikantong saya.
Di rak buku yang lain teman-teman saya yang mayoritas cowok terlihat mengerumuni seorang cewek. Mereka mengobrol dan sepertinya obrolan itu cukup seru. Asumsi pertama saya cewek itu dokter mengingat ada banyak dokter dari hampir seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara sedang berkumpul mengikuti seminar pada Sabtu pagi. Tak ingin ketinggalan untuk berkenalan saya mendekati kelompok kecil tersebut.
Tangan saya terulur memperkenalkan diri. "Putri" ujar saya sambil memperkirakan asal daerah penempatan cewek didepan saya. "Mesa." sambutnya ramah. "Dokter daerah mana?" kejar saya. "Bukan. Saya dari Indonesia Mengajar." balasnya. Dan perkenalan itu berlanjut dengan Mesa yang menunjukkan isi kantong belanjaannya. Ada 2 eksemplar buku Anak-anak Angin disana.
Para orangtua khususnya Bapak biasanya punya pandangan konvensional tentang jalan hidup anak-anaknya. Kuliah di universitas yang bagus, tamat dengan nilai yang memuaskan, bekerja ditempat bergengsi, punya mobil dan rumah, lalu menikah dan punya anak. Sama halnya seperti orangtua Bayu sehingga beliau cukup emosional ketika Bayu mengatakan ia akan menjadi guru di sebuah SD terpencil sebagai bagian dari Indonesia Mengajar. Tekad Bayu bulat. Ia tetap pergi ke Halmahera Selatan meski hanya mendapat sebelah restu dari ibu.
Desa Bibinoi tempat Bayu bertugas tak ubahnya seperti desa-desa di pesisir di seluruh Maluku Utara mengingat provinsi lepasan dari Maluku itu dikelilingi lautan. Maluku Utara hanya memiliki satu pulau besar, beberapa pulau sedang dan ratusan pulau-pulau kecil baik yang berpenghuni maupun kosong. Pulau Halmahera, pulau terbesar di Maluku Utara terbagi dalam 6 kabupaten/kota. Halmahera Selatan mendapat tempat diwilayah bawah dengan puluhan pulau-pulau kecil yang masuk wilayah admistratifnya.