Selasa, 21 Februari 2012

Bidadari Bidadari Surga by Tere Liye


Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Republika

Jumlah Halaman : 368 halaman

Kategori : Fiksi Indonesia



2012 Reading Challenge:
  • Goodreads #8


“Meski terlahir sendiri, sudah menjadi kodrat manusia untuk berkeluarga, memiliki tempat untuk berbagi, memiliki tempat hidup. ” (Wak Burhan)
Sinopsis

Kepedihan, penderitaan, suka cita, canda tawa, cinta dan pengorbanan, tumpah ruah di pondok bambu lembah lahambay rumah keluarga mamak Lainuri dan Laisa.


Pengorbanan tulus tiada tara seorang Laisa. Setelah bapaknya meninggal dicabik-cabik harimau gunung Klendeng, mamak Lainuri lantas berjuang demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Laisa memutuskan berhenti sekolah dan berjanji dalam hatinya untuk memperjuangkan pendidikan adik-adiknya hingga mereka sukses.


Dalimunte, Profesor muda yang mengejutkan dunia science dengan penelitiannya “Pembuktian tak terbantahkan Bulan yang pernah terbelah”. Dan penelitiannya tentang badai elektromagnetik antar galaksi. Profesor yang berhasil menciptakan rangkaian kincir air saat umurnya beranjak 12 tahun, sebagai cikal bakal kemakmuran di lembah Lahambay. Ikanuri dan Wibisana, 2 orang teknisi dan pengusaha sparepart hingga menjual sasis ke Eropa bersaing dengan perusahaan China.


Dua bocah yang hampir diterkam siluman gunung klendeng karena saking bebalnya mereka. Yashinta, si kecil manis yang berubah menjadi peneliti pada lembaga konservasi alam, menjelajah lebih dari 27 gunung di dunia. Ia mendaki, memanjat dan menyelam hingga pedalaman Papua. Mungkin jika ia tak melihat berang-berang pagi itu bersama kak Laisa, ia tak akan sesukses itu, hingga kuliah S2 di Belanda.

Rating 
 untuk ketegaran, hati penuh cinta, dan kerja keras Kak Laisa.


Review


Memang saya tidak merayakan Valentine's Day, namun saya mendapatkan kejutan manis di 14 Februari kemarin... 23.53 WIT (setidaknya menurut jam di ponsel saya) seorang teman mengirimkan SMS "cek email yah..." Tanpa saya duga dia mengirimkan ebook berformat epub ini kepada saya. Meskipun dia juga mengaku kalau ebook ini diunduhnya gratis di internet, tapi pemberiannya ini amat sangat saya ucapan terima kasih. Dan tak hanya itu dia juga mengirimkan epub readernya juga agar bisa langsung saya install di ponsel saya yang tak seberapa itu dan langsung membaca ebook ini.


Tumbuh besar tanpa Babak (ayah) tidak lantas membuat Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta menjadi anak-anak tanpa masa depan. Saat Babak ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi dengan tubuh penuh dengan luka cakaran, Laisa memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu Mamak Lanuri untuk membesarkan dan menyekolahkan adik-adiknya.


Hari-hari Laisa dipenuhi dengan kerja keras membantu Mamak bekerja di ladang dan menjaga adik-adiknya terutama Wibisana dan Ikanuri yang nakal dan iseng. Hingga sekian tahun berlalu dan adik-adik Laisa menjadi orang-orang hebat dari Lembah Lahambay. Menjadi kebanggan Mamak Lainuri dan Kak Laisa serta penduduk lembah tersebut. Dalimunte menjadi seorang profesor bidang Fisika, Wibisana dan Ikanuri kembar yang tidak kembar itu berduet dan menjadi pengusaha bengkel dan modifikasi otomotif, serta Yashinta menjadi peniliti di konservasi-konservasi yang tersebar di Indonesia dan dunia. Bagaimana dengan kak Laisa yang sudah mengorbankan cita-cita dan mimpinya??? Dia pun tak ketinggalan langkah. Dia menjadi pemilik perkebunan strawberry terbesar di Lembah Lahambay.


Tere Liye menuturkan cerita ini dengan bahasa yang ringan dengan sentuhan humor yang terselip disana-sini. Kita dibawa menelusuri Lembah Lahambay yang terkurung oleh gunung batuan cadas itu dan melihat kerja keras kak Laisa demi adik-adiknya. Disuatu malam di lereng gunung Klendeng kita akan melihat bagaimana begitu ikhlasnya kak Laisa menjadikan dirinya tumbal untuk Sang Siluman demi keselamatan adik-adiknya. Dimalam yang lain kita akan diajak melihat kak Laisa yang menerjang malam dengan hujan deras menguyur Lembah Lahambay berlari menuju Kampung Atas mencari mahasiswa yang sedang menjalani KKN demi menolong Yashinta yang mengalami demam tinggi.


Disuatu siang kita akan dibawa melihat Kak Laisa yang sibuk mencari dua sigung kecil (Wibisana dan Ikanuri) yang mangkir dari kerja bakti warga desa di pinggir sungai yang tenyata sibuk bersembunyi dan mencuri buah Mangga kepunyaan Wak Burhan. Di siang lain di dalam kereta api super cepat yang membelah Eropa, kita akan melihat kepedihan hati Ikanuri saat teringat ucapan-ucapan kasarnya kepada Kak Laisa duapuluh lima tahun yang lalu. Di saat yang lain kita akan menikmati seru dan lucunya pertengkaran-pertengkaran kecil antara Yashinta dan rekan penelitinya di Gunung Semeru.


Tak hanya ada cerita tentang kekeluargaan, Tere Liye dengan halusnya mampu menyelipkan sedikit sindiran tentang ungkapan "cantik hati itu jauh lebih penting daripada cantik fisik". Bagaimana salah satu relasi Dalimunte yang hendak dijodohkan dengan Kak Laisa buru-buru pulang ke kota dengan alasan baru ingat ada pekerjaan yang tak bisa ditunda setelah melihat betapa kurang cantiknya Kak Laisa dan kegeraman Dalimunte melihat tingkah relasinya itu. Ternyata ungkapan itu hanyalah pemanis lisan yang tak pernah mengakar dihati yang mengucapkannya. Semua kisah itu dan kisah lainnya sukses membuat saya malu karena menangis saat membaca buku ini hingga membuat orang-orang bertanya-tanya "apa apa dengan saya"ketika mereka melihat saya menangis di ruang kerja saya.

Di balik ceritanya yang sarat makna tentang kekeluargaan, jodoh, nasib dan rejeki, saya menangkap beberapa keganjilan di buku ini. Keganjilan yang pertama adalah tentang nama Dalimunte. Apakah itu memang nama si anak pertama? Karena menurut sepengetahuan saya sebagai orang Sumatera Utara, dan dari yang saya baca disini, Dalimunte adalah salah satu marga yang terdapat di Mandailing, Sumatera Utara. Meskipun dengan penulisan yang sedikit berbeda. Selain itu, penggunaan kata Eyang dan Wawak cukup membuat saya bertanya-tanya dimana sebenarnya Lembah Lahambay ini berada, yang meskipun tidak nyata namun setidaknya dapat merujuk ke suatu daerah atau pulau tertentu.


Selain itu, yang agak terasa ganjil bagi saya, saat keluarga Dalimunte buru-buru harus pulang ke Lembah Lahambay dan lima belas menit lagi pesawat akan berangkat namun keluarga Dalimunte masih berada di rumah, Dalimunte berkali-kali melihat jam tangannya sambil menunggu Intan mencari hamster belangnya. Tidakkah dalam situasi sedemikian genting itu Dalimunte dapat memutuskan untuk meninggalkan saja hamster belang Intan meskipun Intan menangis daripada ketinggalan pesawat dan tidak dapat menjumpai Kak Laisa?Pemunculan mendadak sang pengarang menjelang akhir cerita cukup membingungkan. Mengapa ia bisa masuk dalam cerita? Jadi kesannya seperti numpang eksis gitu. Selain itu detil kecil yang cukup menarik perhatian adalah tempat dulu orang tua Gouhzky bekerja di Indonesia adalah pengilangan minyak Arun di Aceh. Sepanjang pengetahuan saya, Arun yang berada di Aceh adalah pengilangan gas bukan minyak bumi.

Gambar dari sini

Gambar dari sini

Oh... satu pesan saya... Jika ingin membaca buku ini, carilah tempat dimana Anda bisa bersembunyi dan membaca dengan tenang dan jika tiba-tiba Anda harus meneteskan air mata saat membaca buku ini, Anda tak harus menangkap pandangan bertanya-tanya orang lain saat melihat Anda menangis membaca buku ini.






PS : buat temanku... thanks atas kiriman ebook ini...

4 komentar:

  1. Aku suka banget sama Kak Laisa. Perempuan yang hebat (walaupun fiktif) dan bikin pengen nangis, hehe..

    BalasHapus
  2. belum punyaaa. masuk wishlist deh XD

    BalasHapus
  3. saya tambah penasaran dengan bukunya tere liye ini :)
    nice review uwak putri :D

    BalasHapus
  4. @mbak Annisa : iya... aku pun seneng banget sama sosoknya Kak Laisa... Rela berkorban banget untuk adik-adiknya...

    @Ocemei : wajib baca deh Mei...

    @Helvry : Ayo dicari bukunya Tere Liye... Uwak Putri???? Sungguh teganya... *nangis guling-guling di lantai* :p

    BalasHapus

Kamu datang. Kamu baca. Kamu komentar. Iya kan? :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...