Selasa, 01 Mei 2012

Jalan Jihad Sang Dokter by Jose Rizal Jurnalis & Rita T. Budiarti

 
Jalan Jihad Sang Dokter merupakan kisah Dokter Joserizal Jurnalis sebagai seorang relawan di daerah konflik. Tidak hanya di Indonesia. Dokter Jose pun mendarmabaktikan diri ke tempat-tempat penuh marabahaya. Dia bersama timnya pergi ke jalur Gaza yang tengah berkecamuk perang, ke Malukku saat konflik berbau SARA mencuat. Bahkan Tim Mer-C yang digawanginya mendirikan rumah sakit di Palestina.

Dalam buku ini kita akan menemukan tidak hanya kisah perang, duka dan lara, melainkan juga kasih sayang, pengabdian pada profesi dan kemanusiaan, juga solidaritas umat.

^^^^^^^^^



Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar ada sekelompok orang yang bersedia mengorbankan nyawanya "hanya" untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang berada di medan pertempuran? Kagum? Kurang kerjaan? Atau malah gila?

Kagum adalah hal pertama yang terlintas di benak saya ketika mendengar sepak terjang dr. Joserizal Jurnalis dan tim MER-C sewaktu jaman kuliah dulu. Sebagai organisasi kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis, nama MER-C cukup bergaung dimana-mana, baik di Indonesia maupun di mancanegara. 

MER-C, merupakan singkatan dari Medical Emergency Rescue Committee, yaitu organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis, berasaskan Islam, dan berpegang pada prinsip rahmatan lil'alamin. Bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. MER-C terbentuk oleh inisiatif sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang melakukan tindakan medis  untuk membantu para korban konflik di Maluku, Indonesia Timur, pada tahun 1999.  MER-C merupakan lembaga yang keanggotaannya disebut relawan. Relawan MER-C adalah relawan yang tidak dibayar  dalam setiap melakukan misi kemanusiaannya (unpaid volunteers).

Buku ini memaparkan tentang awal mula MER-C saat membantu korban  konflik di Tual, Maluku hingga pada perjuangan tim relawan saat berada di Palestina, membantu korban agresi Israel, mencoba mewujudkan mimpi untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di tanah Palestina sebagai bentuk kepedulian bangsa Indonesia akan perjuangan rakyat Palestina, hingga sekelumit ketegangan saat kapal Mavi Marmar diserbu anggota pasukan Israel.

Rumit dan bertele-telenya birokrasi yang dihadapi tim relawan saat mencoba masuk ke tanah Palestina, ketegangan saat bom dan pesawat-pesawat tempur Israel melintas di dekat para tim relawan, bau darah yang sama sekali tidak amis karena darah tersebut adalah orang yang berjuang di jalan-Nya saat tim relawan mengunjungi salah satu rumah sakit di Palestina, semua terekam jelas dalam buku ini. Pada halaman tengah buku, juga diselipkan beberapa lembar foto saat tim relawan ada di Tual, Maluku, Afganistan, Irak, dan rancang bangun Rumah Sakit Indonesia di Palestina, yang ditampilkan dalam bentuk berwarna. Itu yang menjadi kelebihan buku ini. Kekurangannya, jika penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dengan menggunakan kata "saya" atau "aku" cerita yang ditampilkan akan lebih terasa mengigit.

Tentang cover, dengan foto Presidium MER-C sekaligus penulis buku ini yang mengenakan atribut MER-C cukup menggambarkan isi buku ini namun tidak dengan kesan yang berlebihan. Dari segi penuturan cerita saya memberi 3 smiley karena tidak terlalu mengigit ceritanya padahal dengan latar daerah konflik ketegangan yang ada seharusnya bisa tersampaikan dengan baik. Namun saya tambah satu smiley untuk dedikasi MER-C pada kemanusiaan khususnya pada kegawatdaruratan medis. Yang pasti, buku ini memberikan arti Jihad yang selama ini keliru diartikan.

Penulisdr. Jose Rizal Jurnalis & Rita Budiarti
Penerbit : Qanita
Halaman : 348
Kategori : Personal Literature
ISBN : 9786028579742
Rating : untuk dedikasi MER-C




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamu datang. Kamu baca. Kamu komentar. Iya kan? :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...