Senin, 08 Juli 2013

Buku Ajar Koas Racun 2 by Andreas Kurniawan

Judul : Buku Ajar Koas RacunJilid 2 : Panduan Wajib Sesat Untuk Koas & Mahasiswa Kedokteran
Penulis : Andreas Kurniawan, @KoasRacun
Penerbit : Mediakita, 2013
Tebal : 204 halaman
Genre : Personal Literature
ISBN : 9789797944001

Sinopsis Buku Ajar Koas Racun Jilid 2

Review

Cerita Koas Racun berlanjut di buku 2. Tak berbeda dengan buku yang pertama buku ini juga mengulas tentang betapa menyenangkannya susahnya hidup menjadi seorang mahasiswa FK dan Koas. Namun buku kedua ini lebih difokuskan pada cerita Koas. Terbagi dalam delapan bab, cerita-cerita yang disampaikan masih tetap dengan humor yang sedikit nyelekit dan gambar-gambar dari 9gag yang tampaknya menjadi favorit para @KoasRacun.

Buku kedua ini lebih bercerita pada sisi lain kehidupan koas. Ada bab yang bercerita tentang Koas dan senjata medis dan non medisnya. Salah satunya stetoskop. Ya! yang namanya Koas pasti akrab dengan stetoskop yang melingkari leher sepanjang hari yang biasanya membuat penampilan si Koas jauh lebih keren dan jauh lebih percaya diri. Setidaknya di depan gebetan dan di depan pasien.

Hal lain yang tak pernah bisa tinggal dari seorang Koas adalah pena alias pulpen.Sudah menjadi hal yang umum jika seorang Koas kehilangan pena. Alasannya sih biasanya cuma satu: dipinjem konsulen atau residen dan tidak ablik. Bisa jadi si peminjam lupa mengembalikan dan yang pasti si Koas segan meminta kembali.

Masa sih sampai harus ngebahas pena? Memang pena kelihatannya sepele. Tapi bayangkan kalau setiap hari harus mengeluarkan uang membeli pena, berapa banyak Rupiah yang keluar hanya untuk satu jenis alat tulis itu? #pelit #biarin Sampai sekarang saya masih ingat saya punya kebiasaan untuk membeli pena hingga selusin dan didalam tas selalu ada 2 atau 3 pena cadangan bila mendadak pena saya dipinjem dan tak kembali.

Hal lain yang akrab dengan Koas adalah jas Sneli. Itu loh... jas warna putih yang bila dipakai mempunyai efek membuat si pemakai jauh lebih percaya diri dan yang melihat jadi terpesona #tttsssaaahh Pesan seorang dosen masa pendidikan dulu yang masih saya ingat berkaitan dengan jas ini adalah "perintah" untuk memakai jas ini hanya dilingkungan RS bukan ditempat lain. Kata beliau "Koas itu di RS bukan di pasar. Jadi jas sneli itu dipakai di RS. Kalau ke pasar jasnya tidak perlu dipakai. Tidak perlu seluruh dunia tahu kalau kalian itu Koas." Dan jas sneli itu pun biasanya dipakai dan dilepas di parkiran RS.

Bicara tentang buku, buku yang paling akrab yang mendampingi koas adalah fotokopian dan buku ajar versi saku. Disetiap saku jas Sneli seorang koas buku, pena, termometer atau pita ukur adalah hal wajib yang bisa dijumpai. Mengapa harus buku? Well... seorang koas itu harus siap ditanya apa saja oleh para residen atau konsulen. Dengan mobilitas koas yang cukup tinggi (baca: sering disuruh kesana kemari) tidak mungkin seorang koas berlalu-lalang dengan menenteng Buku Ajar Bedah deJong yang lebih tepat dijadikan bantal dari pada buku itu. 

Maka terbitlah buku saku koas yang berisi rangkuman berbagai penyakit yang biasa dijumpai di RS pendidikan atau yang berpotensi ditanyakan oleh residen/konsulen. Dengan besar seukuran kantong jas sneli itu buku itu cukup praktis untuk dibawa kemana saja dan dibaca kapan saja. 

Tapi di RS saya dulu buku saku koas itu adalah hal terlarang. Buku yang biasa disebut dengan Buset singkatan dari Buku Sesat atau Buku Setan itu bisa membuat koas yang membacanya dimarahi oleh para residen/konsulen. Alasan mereka buku itu isinya menyesatkan sehingga disebut buset. Curiganya sih para resdien/konsulen jaman koas dulu pasti juga membaca buset tapi demi kewibawaan mereka maka buku itu pun dilarang. Membuka buku itu saat ditanya para residen/konsulen pun menjadi keahlian tersendiri yang wajib dikuasai koas.


****

Secara umum buku kedua yang tak hanya ditulis oleh Andreas Kurniawan sendiri tapi oleh tim @KoasRacun ini lebih informatif dan menghibur. Meski beberapa cerita terasa lebay dan garing humornya. Khusus dibagian "Koas dan Game" saya sukses men-skip-nya karena saya sama sekali tak mengerti. Maklum bukan gamer.

Yang membuat sedikit kecewa harganya yang lebih mahal dibandingkan buku pertama (setidaknya ditempat saja membelinya) namun dengan jumlah halaman yang lebih sedikit. Dibeberapa tempat typo masih juga nongol, sepertinya proofreader-nya harus bekerja lebih keras lagi. Tapi diluar kekurangannya dan isinya yang penuh humor sesungguhnya buku ini memberi pesan yang nyaris dilupakan orang yaitu "Koas dan dokter itu juga manusia yang punya batasan dan tidak sehebat super hero."

"Ada alasan mengapa jas dokter warnanya putih. Warna putih ini melambangkan kebaikan. Maka, setiap mengenakan jas putih ini, ingatlah bahwa kita masih diharapkan menjadi sosok yang suci, sosok yang siap menolong dengan tulus. Lebih jauh lagi, kita juga diajak untuk mensyukuri bahwa kita cukup beruntung bisa menempuh perjalanan yang begitu berat hingga akhirnya berhak memakai jas putih itu sehari hari." (p. 145)



@ rumdis
24062013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamu datang. Kamu baca. Kamu komentar. Iya kan? :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...